Lari atau Mati

Judul: The Maze Runner Penulis: James Dashner Penerbit: Mizan Fantasi Tahun Terbit: (first published 2009) Tebal: 488 Halaman Genre: Fantasy/ Dystopia Rating: 4 dari 5

Judul: The Maze Runner
Penulis: James Dashner
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: (first published 2009)
Tebal: 488 Halaman
Genre: Fantasy/ Dystopia
Rating: 4 dari 5

Sedikit curhat sebelum masuk ke review. Buku ini sebenarnya sudah cukup lama ada di rak buku. Sekitar hampir 2 tahun kalau gak salah. Selama itu, belum ada hasrat buat baca karena buku ini gak seheboh Divergent atau The Hunger Games. Baru deh ketika filmnya akhirnya tayang di bioskop, buku ini kembali dicetak ulang dengan sampul baru. Aku sendiri baru membaca buku ini setelah selesai menonton filmnya. Selain bermaksud ingin membandingkan feel-nya juga ingin dapat jawaban atas hal-hal yang tidak dapat aku tangkap dan mengganggu pikiran yang terjadi di film.

Menonton filmnya agak bikin pusing soalnya sepanjang hampir separuh film aku gak tahu kenapa si Thomas, sang tokoh utama bisa berada di Glade. Aku sibuk bertanya-tanya sebenarnya Thomas ini kenapa dan apa yang terjadi dengan dia dan orang-orang yang sekarang di Glade.

Ketika membaca buku, pertanyaan-pertanyaan yang menggemaskan itu ternyata juga muncul. Sepanjang membaca aku sibuk menebak-nebak siapa Thomas sebenarnya, bagaimana cerita awal mula ada tempat ‘pengasingan’ bernama Glade, apakah mereka ada di sebuah penjara, kalau ya, apa salah mereka di masa lalu, dsb. Tak berlebihan kalau aku bilang aku gemas. James Dashner, si penulis, rupanya ingin mengikat pembaca dengan pertanyaan-pertanyaan gemas itu dan aku rasa dia berhasil. Buktinya, aku tak sampai sehari menyelesaikan buku dengan genre fantasy dystopia ini. Itu tak lain karena aku sebegitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Ditambah lagi dengan kehadiran Teresa, satu-satunya penghuni perempuan di Glade sekaligus penghuni terakhir. Kenapa dia dikirim ke Glade? Kenapa dia harus jadi yang terakhir? Dan serentetan ‘kenapa’ lainnya. Tapi ternyata atas kecerdasan Thomas, misteri itu bisa dipecahkan satu per satu.

Adegan di buku berawal dari kebingungan Thomas yang tiba-tiba berada di sebuah tempat berisi penuh dengan remaja yang semuanya laki-laki. Thomas tidak bisa ingat apa-apa kecuali namanya (kalau di film, Thomas baru ingat namanya setelah terlibat adu kemampuan dengan Gally). Lalu Alby, bisa dibilang ketua komunitas itu, bilang bahwa itu adalah hal yang wajar. Mereka semua juga lupa siapa diri mereka di hari pertama tiba di Glade. Glade adalah sebuah area yang dikelilingi tebing-tebing tinggi. Kelak Thomas tahu bahwa tebing-tebing itu adalah bagian dari dinding labirin yang mengurung semua penghuni Glade. Mereka tidak bisa mudah keluar sebab di dalam labirin ada sekawanan monster serangga yang mereka sebut dengan Griever. Griever ini semacam kalajengking yang badannya dimodif sedemikian rupa sehingga menyerupai robot. Mungkin juga ada rekayasa genetik sebab mana mungkin ada kalajengking berukuran sebesar itu.

Penghuni Glade meyakini dengan terpaksa mereka memang dikirim seseorang untuk hidup di sana selamanya. Sebab bagaimana mungkin mereka bisa keluar dari labirin yang dijaga monster mematikan dan labirin yang berubah bentuk dari waktu ke waktu? Mereka pikir, ada seseorang yang memang ingin membunuh mereka dengan cara yang lu-pikir-aje-sendiri.

Setiap bulan akan ada kiriman buat Glade melalui Kotak. Baik berupa logistik ataupun penghuni baru. Kotak itu berupa lift yang mungkin-lo-pikir-lo-bisa-kabur-lewat-lift-itu-tapi-sayang-sekali-lo-gak-akan-pernah-bisa. Pernah ada yang nekat kabur lewat Kotak tapi kemudian belum sampai di dasar, tubuhnya sudah terbelah dua. Euw.

Ada profesi yang paling bergengsi di Glade yaitu Maze Runner. Pelari inilah yang setiap hari keluar masuk labirin untuk memetakan bentuk labirin dengan harapan suatu hari mereka bisa menemukan jalan keluar dan penghuni glade bisa kembali ke kehidupan yang seharusnya. Untuk menjadi pelari, tidak boleh sembarangan orang sebab risikonya bisa berakibat kematian.

Tapi Thomas mengubah itu semua. Berkat rasa ingin tahunya yang tinggi, ia akhirnya mendapatkan jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan seluruh penghuni Glade. Meskipun awalnya sikap Thomas dianggap membahayakan (malah ia sempat disangka mata-mata karena segala hal buruk mulai terjadi sejak kedatangan Thomas), namun ia akhirnya mendapatkan kepercayaan warga Glade sehingga dalam waktu singkat Thomas diangkat menjadi pelari.

Aku agak bingung. Di sini disebutkan bahwa ada 8 pelari di Glade tapi kenapa cuma Minho yang kelihatannya berlari setiap hari sendiri. Yang lain ke mana? Kemudian dengan sosok Gally yang lebih masuk akal kalau dia punya peran seperti di film. Yang Gally versi buku ini aku agak gak nyambung.

Menjelang akhir, kita akhirnya tahu apa yang terjadi dengan Thomas, Teresa, dan warga Glade lainnya. Cukup mindblowing. Ternyata complicated banget. Gak ada ending yang menggantung.

Ditinjau dari segi fisik, buku ini dicetak di dengan kualitas kertas yang memuaskan. Tidak terlalu buram seperti kertas di buku The 100-Year-Old Man terbitan Bentang Pustaka juga tidak terlalu terang karena bukan kertas HVS. Huruf yang digunakan pun tidak kecil-kecil jadi gak bikin mata cepat lelah.Aku juga mau berterima kasih dengan penerjemahnya yang bekerja dengan baik sehingga edisi terjemahan ini layak dibaca, mudah dipahami dan dinikmati.

Tiba-tiba aku jadi ingat tentang hidup. Sama seperti penghuni Glade yang tidak tahu kenapa mereka ada di Glade, siapa yang melakukan itu terhadap mereka, dan bagaimana kehidupan mereka sebelum berada di Glade. Seperti konsep ketuhanan. Kita tidak bisa melihat atau tahu, tapi kita percaya bahwa Tuhan itu ada. Seperti itu pula warga Glade memandang para Kreator. Bahkan kalau kita pikir tempat kita yang sekarang adalah tempat yang buruk lalu kita memutuskan untuk pindah ke tempat yang kita anggap lebih baik, itu juga belum tentu benar. Warga Glade pun begitu. Setelah mereka akhirnya bisa keluar dari Glade, justru neraka yang sebenarnya baru akan dimulai.

Buku ini berupa trilogi. Yang kedua berjudul The Scorch Trial dan ketiga The Death Cure. Saran saya, baca bukunya sebelum menonton filmnya. Cukup banyak perbedaan di sana sini dan signifikan cuma memang tidak mengubah konsep dan isi cerita.

Advertisements

[Review] The Giver by Lois Lowry

Judul Asli: The Giver Judul Terjemahan: Sang Pemberi Penulis: Lois Lowry Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2014 Tebal: 232 halaman Genre: Dystopia Rating: 4 dari 5

Judul Asli: The Giver
Judul Terjemahan: Sang Pemberi
Penulis: Lois Lowry
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 232 halaman
Genre: Dystopia
Rating: 4 dari 5

Awalnya, gw pikir buku ini mempunyai rasa yang sejenis dengan tulisan-tulisan Mitch Albom atau Paulo Coelho. Tapi ternyata beda sama sekali. Buku ini bergenre dystopia, yaitu fantasy cerita kehidupan di masa yang jauh akan datang.

Tokoh utamanya bernama Jonas, seorang bocah laki-laki yang berusia dua belas tahun. Sesuai dengan sinopsis di belakang bukunya, kehidupan Jonas ini memang sempurna. Semua itu karena adanya peraturan-peraturan yang dibikin oleh komite di komunitas tempat Jonas tinggal. Untuk bisa bekerja, lo akan dipilihkan pekerjaan. Untuk bisa menikah, lo akan dipilihkan pasangan. Oleh siapa? Ya, oleh si komite itu tadi.

Nah, semua anak yang berusia dua belas akan diputuskan oleh Tetua mereka kelak akan bekerja sebagai apa ketika sudah dewasa. Hal ini tentu mendebarkan buat semua anak, tak terkecuali Jonas. Namun, saat hari pengumuman itu tiba, ada yang janggal dengan Jonas. Namanya tidak dipanggil oleh Tetua. Tetapi ia telah terpilih menjadi seorang Penerima Ingatan. Sesuatu yang sangat istimewa. Sebuah pekerjaan yang mulia.

Dan di sinilah semua kebenaran terungkap. The Giver, Sang Pemberi, orang terpilih sebelum Jonas yang umurnya sudah sangat tua, akan memberikan ingatan-ingatan tentang kehidupan manusia berpuluh-puluh atau bahkan beribu-ribu tahun sebelumnya. Di komunitas, penduduk tidak mengenal warna, tidak mengenal apa arti cinta, tidak mengenal keluarga. Semua serba diatur sehingga terasa kaku. Ketika Jonas mengetahui bahwa kehidupan di komunitas tidak seperti seharusnya, tidak manusiawi, pikirannya mulai berontak.

Sanggupkah ia meneruskan tugasnya sebagai Penerima Ingatan?

***

Gw menutup buku ini dengan rasa amat puas, malah cenderung gak mau pisah. Sangat gak salah kalau buku ini masuk ke dalam list 1001 buku yang harus dibaca sebelum wafat. Untuk ukuran buku dystopia, buku ini relatif tipis. Tapi justru di situ sisi menariknya. Lois Lowry tidak bertele-tele sehingga membuat buku ini terasa berisi sekali. Memang sih, sebagai pembaca, gw jadi kurang bisa membayangkan lingkungan tempat Jonas tinggal secara detail, tapi ini bukan masalah besar.

Setiap membuka halaman demi halaman, gw hampir selalu tercengang. Kenapa? Nih ya bayangin aja. Kalau yang kita tahu, di kehidupan nyata sosok ibu kandung adalah sosok yang mulia dan tak ada duanya. Jasanya bahkan tak bisa dibayar oleh apa pun. Tapi di dunia Jonas, ada profesi Ibu Kandung yang dipercaya sebagai pekerjaan rendahan karena wanita yang berprofesi sebagai Ibu Kandung tersebut setelah 3 kali melahirkan anak, lalu akan beralih profesi menjadi buruh seumur hidupnya. Terbuang sekali kan?

Ini karena komite menginginkan generasi penerus komunitas akan menjadi bibit-bibit unggul yang membawa perubahan yang semakin baik bagi komunitas. Maka hanya perempuan-perempuan tertentu saja yang “kualitasnya baik” yang diperbolehkan melahirkan.

Bukan cuma itu saja. Peraturan-peraturan di komunitas Jonas ini sangat unik. Setiap unit keluarga hanya boleh punya satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Kalau ada yang melanggar, akan dipindahkan ke Tempat Lain. Nah, Tempat Lain yang dimaksud di sini gw jamin juga akan mencengangkan. Sebagian dari lo mungkin bakal berpikir bahwa “tempat lain” artinya “pindah ke komunitas lain”. TAPI TERNYATAAA…

JENG! JENG! JENG!

Temukan sendiri ya di dalam buku ini. Hahahaha!

Yang jelas gw bersyukur hidup di kehidupan gw yang sekarang. Di dunia Jonas, setiap kali lo minta maaf, orang lain harus menjawab dengan “aku menerima permintaan maafmu”. Capek gak tuh? Kalau di sini kan “gw minta maaf ya”. Balasannya, “iye”. So simple.

Selain dari segi cerita, gw juga suka dengan sampul The Giver ini. Gak seperti kaver buku dystopia pada umumnya yang cenderung dark dan berusaha untuk terlihat WAH. Buku ini, bersampul sangat unyu dan ceria.

Penerjemahannya juga smooth dan so far sih gak ada kata atau kalimat yang terasa mengganggu. Beberapa typo, ya ada. Tapi rasanya bukan masalah besar.

Gw berharap buku selanjutnya bisa lebih WOW dibandingkan buku pertamanya ini. Dan semoga penerbit tidak mengalami kendala yang berarti selama proses penerbitan dan membiarkan pembaca menunggunya terlalu lama. Aamiin…

Oh iya, lupa bilang, ini adalah buku tetralogi. Dan sorry to say cara penulis memotong buku satu ini lumayan ganggu karena endingnya jadi menggantung. Permasalahannya tidak tuntas. Bagi beberapa orang, hal ini akan menjadi pertimbangan orang ketika ingin membeli/ membaca. Overall, buku ini layak dapat 4 dari 5 bintang!