The Fault in Our Stars

17163051

Judul Buku : The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-bintang)
Penulis : John Green
Penerjemah : Ingrid DN
Editor : Prisca Primasari
Penerbit : Qanita
Terbit : Desember 2012
Tebal : 422 Halaman
Harga : Rp 49.000,00

Rate : 3 out of 5
  

Tentang Bagaimana Melewati Hidup yang Berharga

Hidup tidak akan pernah terasa mudah bagi Hazel Grace Lancaster, remaja perempuan berumur 16 tahun, menderita kanker tiroid dengan metastasis (penyebaran kanker ke bagian lain tubuh) di paru-paru yang cepat atau lambat ia yakini bisa memusnahkan nyawanya kapan saja. Sehari-hari, Hazel bernapas dibantu dengan alat pernapasan berupa selang yang terhubung dengan tangki oksigen dan ia selalu membawa benda itu ke mana-mana.

tumblr_m3hlgfW7WT1qhustio1_500

Hazel tinggal bersama ibu dan ayahnya di sebuah kota di Indiana, Amerika. Ibunya yang khawatir Hazel akan menjadi depresi karena tidak ada kegiatan akhirnya “menjerumuskan” Hazel untuk mengikuti Kelompok Pendukung. Kelompok ini berisi orang-orang yang bernasib sama, yaitu menderita kanker atau tumor.Tujuannya, tentu saja apalagi kalau bukan supaya si penderita tidak merasa sendiri dan selalu semangat melawan penyakitnya. Tapi, bagi Hazel, Kelompok Pendukung ini sama sekali tidak memikat hatinya. Selama ini ia menghadirinya semata-mata hanya untuk membuat ibunya bahagia.

“Aku ingin menyenangkan orangtuaku. Hanya ada satu hal di dunia ini yang lebih menyebalkan daripada mati gara-gara kanker di usia enam belas, yaitu punya anak yang mati gara-gara kanker.” Hazel, hal. 15

Sampai datanglah seorang pangeran berkuda putih  nggak deng  tapi bisa juga diumpamakan seperti itu. Namanya Augustus Waters. Dalam pandangan Hazel, Gus –begitu ia akhirnya biasa dipanggil– itu seksi. Sama seperti orang-orang lainnya dalam Kelompok Pendukung, August juga memiliki penyakit tertentu. Ia mantan penderita ostheosarchoma yang membuat satu kakinya harus diamputasi.

Pertemuan mereka diawali dengan sikap Gus yang tidak berhenti memandang Hazel, awalnya membuat Hazel risih. Namun lama-lama, Hazel akhirnya meladeni juga dan mereka tanpa sadar memainkan games “Tatap Menatap” yang dimenangkan oleh Hazel.

“Kenapa kau memandangku seperi itu?”

Augustus tersenyum kecil. “Karena kau cantik. Aku suka memandangi makhluk cantik, dan beberapa saat yang lalu kuputuskan untuk tidak mengingkari kenikmatan sederhana dari keberadaanmu.” hal. 27

Ya ampuuun August… *garuk2 aspal*

Singkat cerita, mereka akhirnya menjalin sebuah kisah cinta. Tanpa perlu ada penembakan seperti “Aku mencintaimu. Maukah kau jadi pacarku?” dsb. Hanya berupa perhatian-perhatian dan sikap-sikap sederhana yang akhirnya menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya.

Hubungan yang mereka lakoni asyik dan seru banget. Tidak ada adegan menye-menye remaja yang ngambek karena si pacar tidak menelepon hari itu atau batal ketemu atau gara-gara telat datang. Sama sekali tidak ada.

Cerita mulai seru ketika Hazel memberitahu Gus mengenai buku favoritnya yang berjudul “Kemalangan Luar Biasa” karangan Peter Van Houten (serius, saya sudah gugling dan ternyata penulis ini fiktif belaka ). Ada beberapa pertanyaan dalam buku itu yang membuat Hazel penasaran. Hazel sudah berusaha bertanya kepada Peter melalui e-mail. Namun atas beberapa alasan, Peter tidak bisa menjawabnya via e-mail maupun telepon karena takut Hazel nanti akan mencuri idenya itu dan kemudian menuliskan sekuelnya. Ha! tentu saja Hazel tidak akan selicik itu. Ia hanya sungguh ingin tahu mengenai isi cerita itu lebih lanjut lantaran Peter menulis endingnya dengan sangat menggantung. Maka, satu-satunya cara untuk menuntaskan rasa penasaran Hazel adalah dengan mendatangi langsung Peter di Amsterdam. Tapi bagaimana mungkin dengan kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan itu? Oh ya. Dan tentu saja biaya akomodasi yang tidak sedikit.

Atas nama cinta, demi Hazel, August rela menggunakan “Keinginan-nya” untuk membiayai semua akomodasi mereka. Salah satu previlege bagi penderita kanker adalah penderita diberi kesempatan untuk mendapatkan apa saja yang begitu diinginkannya satu kali seumur hidupnya. (“Keinginan” Hazel sudah ia pakai waktu umur 13 tahun mengunjungi Disneyland dan menurut Gus, itu konyol.)

“Hazel Grace, kuakui bahwa kau memang menghabiskan satu-satunya Permintaanku, tapi kau tidak menghabiskannya untuk lelaki itu. Kau menghabiskannya untuk kita berdua.” Augustus, hal. 264

*menatap nanar sambil gigit ujung bantal*

Setelah melalui diskusi ketat dengan tim medis, mereka diperbolehkan berangkat bertiga, dengan ibu Hazel menemani. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan penulis pujaan mereka. Nah, dalam pertemuan ini akan ada kejadian yang tidak terduga lho. Apakah itu?  Baca sendiri yah!

Intinya, di sana, mereka membangun lebih banyak cinta dan menebar lebih banyak kasih sayang satu sama lain. Hidup mereka benar-benar terkesan indah pada saat itu. Siapapun yang melihatnya pasti akan iri.

Tapi, akankah mereka bahagia selamanya? Lantas, siapakah yang harus bertanggung jawab atas semua hal yang mereka alami? Benarkah ini semua salah bintang-bintang, sesuai dengan apa yang selama ini mereka percayai? Temukan sendiri jawabannya dengan membaca novel ini!

***

Ketertarikan saya untuk membaca buku ini berawal dari review beberapa teman-teman blogger yang terlihat begitu mengagumi si tokoh utama laki-laki yang digambarkan sebagai sosok yang luar biasa romantis dan seolah-olah bisa membuat cewek mana pun meleleh dibuatnya. But, well, setelah saya baca sendiri, saya kurang merasakan sensasi itu. Iya, memang ada, tapi tidak se-high mereka. Kecewa? Hmm, tidak juga. Buku ini sebenernya bagus, seandainya saja penulis mau membuat Augustus mengeluarkan kata-kata (gombal coret) romantis yang lebih banyak lagi 

(aduh Augustus, gombalin aku dong…) *kemudian dilempar ke sawah*

Tidak ada yang terlalu istimewa dalam buku ini. Buku setebal 422 halaman ini ditulis dengan alur maju dan sudut pandang orang pertama serba tahu, yaitu si Hazel sendiri. Hanya saja, mungkin topik dan konflik yang diangkat bisa dibilang cukup menarik karena jarang sekali diulas penulis lain. Misal : pengorbanan Gus yang begitu besar dalam menggunakan “keinginannya” demi mewujudkan kemauan Hazel. Saya rasa di cerita cinta remaja mana pun, belum ada yang seseru ini. So, hal ini bisa dibilang sukses membuat saya excited.

Saya juga suka cara penulis menggambarkan tokoh Hazel yang lucu dengan gaya humor khas Amerika yang cenderung bikin mikir dan sedikit sarkastis, namun tetap manis di sisi lainnya; suka memakai gaun dan bermanja-manja kepada Gus. Juga tokoh August yang dibuat –OEMJI– sebegitu romantisnya! Errr kalau saya jadi Hazel, saya pasti sudah mati meleleh terlahap semua kata-katanya yang kelewat manis. Hahahaha!

Font dan spasi yang digunakan dalam buku ini cukup bersahabat. tebal, namun tidak melelahkan untuk dibaca. At least, siapapun yang membuka buku ini di toko buku saat akan membelinya, tidak akan keburu ilfil melihat tingkat kerapatan hurufnya.

Eniwei, kata beberapa teman yang baca versi Englishnya, buku ini lebih bagus dibaca versi aslinya tersebut. Karena dalam versi Indonesia ini cukup banyak sensor adegan ciuman (yang mana menurut saya mungkin mengurangi nilai keromantisan buku ini. padahal ‘kan tidak semua ciuman itu erotis. betul tidak? ) dan pemakaian kata terjemahan yang kurang pas. Hal ini tentu mengurangi esensi dan kenikmatan dalam membaca bukan?

Selain itu, entah kenapa saya juga lebih menyukai kaver versi English. Terkesan lebih nyambung (dan elegan!) sama genre novel ini –Young Adult– dibanding dengan kaver terbitan Qanita ini yang kelihatannya seperti buku anak-anak.

11870085

Walau terkesan drama, buku ini ternyata tidak cukup membuat saya mewek. Tetapi cukup hanya sekedar sesak menahan napas karena membaca adegan-adegan yang cukup menyedihkan. Tapi, seperti yang saya bilang di atas ; buku ini tidak menye-menye kok.

Salah satu quote favorit saya. Dari Hazel kepada Augustus

 “I’m in love with you, and I’m not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I’m in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we’re all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we’ll ever have, and I am in love with you.”

Oh iya, di buku ini terdapat lumayan banyak istilah-istilah medis yang sayangnya kurang diberi penjelasan seperti catatan kaki atau indeks dsb. Sehingga saya sering bolak balik cek google untuk mencari arti dari istilah kata yang dimaksud.

Overall, saya kasih 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Tadinya saya berekspektasi lebih karena ada tulisan “#1 New York Times Best Seller” di sampul depannya. Tapi setelah membacanya langsung, saya tidak begitu merasa emosi saya teraduk-aduk. Tapi, tidak datar juga sih. So, 3 bintang saya rasa cukup mewakili.

PS : saya pribadi, beberapa waktu ke depan mungkin akan membuka-buka lagi buku ini. bukan untuk dibaca ulang dari awal. melainkan hanya untuk “mencuri” sepikan2 romantis bin gombal dari August untuk saya praktikan ke kehidupan nyata. hahaha!

Thank’s John Green for creating a flirty-romantic character like Augustus! maybe it seems a lil bit naughty, but nevermind as long as I love it 

Advertisements

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

seno-gumira-ajidarma

Judul Buku : Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

Penulis : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit : Galang Press

Tahun Terbit : 1995 (Cet. III, 2006)

Tebal : 220 Halaman

Dimensi : 125x185mm

Rate : 4 of 5

Yang Minor, Yang Kalah

Bagaimana jika Anda dilarang menyanyi di kamar mandi dengan alasan suara Anda akan menimbulkan imajinasi yang meresahkan masyrakat di republik ini?

Relakah Anda dilarang menyanyi di kamar mandi hanya karena imajinasi telah membuat banyak orang tidak tahu diri?

Sudikah nasib Anda ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan masuk akal tentang suara nyanyian Anda setiap kali mandi?

Mungkinkah Anda hidup dalam masyarakat yang mungkin saja suatu ketika melarang Anda menyanyi di kamar mandi?

***

Buku ini merupakan kumcer. Berisi 14 cerita pendek yang cukup ringan, lucu, tapi sarat makna. Ditulis dengan gaya bahasa yang khas Seno sekali. Kadang terlalu gamblang membicarakan hal-hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat. Tapi, itulah Seno.

Semua cerpen di sini asyiknya menggunakan bahasa yang tidak terlalu nyastra. Sehingga saya bisa membacanya di bus,tanpa perlu konsentrasi berlebih seperti yang biasanya saya lakukan kalau membaca karya Seno yang lain.

Salah satu cerpen di buku ini berjudul “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” yang juga merupakan judul utama dari kumcer ini. Berisi cerita tentang seorang gadis, Sophie namanya, pendatang di sebuah gang sempit yang dilarang menyanyi oleh ibu-ibu di sekitar kosan tempat dia tinggal. Ibu-ibu itu protes lantaran para suami mereka menjadi dingin di atas ranjang. Kenapa para bapak menjadi dingin? Tentu saja karena setiap sore, para bapak itu dengan setia menikmati suara-suara yang dibunyikan Sophie saat ia mandi. Bunyi ritsluiting celana yang dibuka, bunyi air yang menyiram tubuh Sophie, bunyi gesekan handuk, semua bunyi itu ternyata menimbulkan fantasi berlebihan bagi para bapak di gang itu. Apalagi bila Sophie bernyanyi, wah, makin liar imajinasi bapak-bapak itu, karena Sophie memiliki suara yang sexy.

Hal ini tentu membuat ibu-ibu gang merasa cemas. Para suami enggan bercinta. Mereka sudah lebih dulu melepaskan hasratnya saat mendengar Sophie mandi. Ibu-ibu akhirnya melaporkan kejadian ini kepada Pak RT. Mendengar hal tsb, Pak RT tentu tidak begitu saja percaya. Mana mungkin ada orang mandi yang bisa sampai menimbulkan imajinasi mesum seperti itu? Apalagi kalau ia bernyanyi? Tapi, yah, namanya juga Pak RT, akhirnya toh beliau manut saja waktu para ibu mendesak Pak RT  untuk mengusir Sophie dari kampong itu karena dianggap merusak keharmonisan rumah tangga warga sekitar.

Sebagai orang bijak, Pak RT bukannya mengusir Sophie, tapi hanya menyuruh Sophie untuk tidak boleh menyanyi lagi di kamar mandi. Oke. Sophie menurut. Sebagai pendatang baru di gang itu, ia manut saja. Meskipun sebenarnya dia heran kenaoa menyanyi saja dilarang? Kalau pikiran bapak-bapak itu mesum, memang salah dirinya?

Sore besoknya, ia mandi tanpa menyanyi. Tapi bapak-bapak tetap masih begitu-begitu saja. Ibu-ibu tidak tahan lagi. Mereka kembali mendatangi Pak RT. Kali ini, ibu-ibu ingin Pak RT benar-benar mengusir Sophie. Duh, ruwet sekali permasalahan ini. Sophie, si kaum minoritas di tempat itu, merasa terjajah dengan tindakan para ibu-ibu yang mengatur-atur hidupnya.

Akankah Sophie diam saja? Atau malah membalas semua kekesalannya pad aibu-ibu gang?

***

Tidak terlalu lama saya menyelesaikan buku ini. Seperti yang saya bilang, bahasa di buku ini tidak terlalu berat dan nyastra. Kalau boleh saya bandingkan dengan buku-buku Seno seperti “Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian” tentu buku ini jauh dari kata “berat”.

Mengusung tema di kehidupan sehari-hari. Ada yang menceritakan tentang kehidupan pencopet yang ingin membahagiakan pacarnya yang seorang biduan. Ada pula cerita tentang laki-laki kaya yang ingin menikahi seorang pelacur yang dulu pernah ditidurinya sejak ia masih remaja dan belum punya apa-apa. Atau cerita sesederhana dering telepon yang tidak kunjung diangkat karena semua orang sibuk.

Tema-tema simple seperti itu bisa dikemas oleh Seno dengan sangat apik. Melihat reputasinya di dunia jurnalistik, tentu sudah tidak perlu diragukan lagi bagaimana kualitas tulisannya. Tapi menurut saya, tulisan Seno sebenarnya tidak sesimpel kelihatannya. Banyak sindiran halus yang disisipkan dalam setiap ceritanya. Kalau kita jeli, kita bisa tahu maksud dari cerita ini, berbicara tentang hal besar apa. Seno hanya menganalogikan dengan hal-hal lain karena mungkin pada tahun itu, 1995, kebebasan berbicara masih terbatas. Cerdas!

Akhir kata, 4 dari 5 bintang untuk kumcer cerdas seperti ini. Bravo, Seno!

PS : direview untuk mengikuti event Membaca Sastra Indonesia by mademelani

membaca-sastra-indonesia-2013

Confession of A Shopaholic

It is my confession… *nyanyi lagu Usher* haiyah

Jeng! Jeng! Akhirnya tiba juga hari  di mana aku harus membuka identitasku kepada si X *background lagu : Peterpan – Topeng* tapi buka dulu topengmu… buka dulu topengmu… 

Dia adalah… *drumroll sampai imlek*

~NUR AULIA AFINA~

SI adek manis, tempat curcol bareng. Muahaha! Gimana gitu rasanya harus pura2 gatau sedangkan setiap malem suka curhat-curhatan. Sempet waktu itu Aul nanya, “Kak Selvi bisa bantu mecahin kode santa nggak? Kak Selvi ngerti not musik nggak?” JEDEEERRR

Aku dilema, kakak… AKU KUDU PIYEEE??? >,<

Di tengah kegalauan itu, aku bersandiwara hahaha tapi kayaknya Aul dengan cerdasnya sudah bisa menemukan siapa Secret Santa-nya. Curang ih pasti nanya-nanya kanan kiri tuh soal riddlenya! Huuu *jitak Aul*

Karena mepet, maaf ya aku cuma bisa kasih Hailstorm yang kamu bilang “ini perasaan nggak ada di rak secret santa deh tapi di wishlist” hahaha ya karena pas aku buka akun GR kamu itu list secret santa udah nggak ada!!! apa???!!! hilang???!!! *zoom in zoom out*

Aku sempet panik dan minta solusi ke Ndari maupun ke Oky. lagi2 aku galau. AKU KUDU PIYEEE…??? >,<

Well, entah gimana akhirnya si Aul bisa mecahin kode itu. Naluri jailku mengatakan “Aul pasti jadi gila karena kode ini. Muahahaha” *evilgrin* (–,) ternyata Aul bisa T-T aku merasa gagal sebagai pramuka *lho*

Semoga bukunya cukup menghibur ya. Sekali lagi aku minta maaf… *ketjup*

A : terus kok judulnya “Confession of A Shopaholic”, Sel? Nggak nyambung deh jij

Selvi : Ngga papa lah, eik ‘kan juga suka belanja kok… Belanja buku, Weks >:p

A : *mlengos* *kibas rambut*

PS : Aku tahu riddleku agak nyusahin. *selfkeplak* That’s why aku kasih tulisan hijau petunjuk tambahan di belakang riddle. In case, bukannya malah jadi seseruan nebak Santa, malah jadi stress sendiri. Hahaha… aku baik ‘kan, Ul? 😛