[Blog Tour] Rahasia Lantai Keempat by Rettania: Jangan Menengok ke Belakang!!!

Waktu saya SD, ada cerita hantu mister gepeng yang katanya mati karena kegencet pintu kamar mandi. Lalu saat SMP ada gosip hantu di toilet siswi yang kerap meminjam sisir. Pas SMA, ada hantu perempuan yang katanya bunuh diri dengan cara terjun dari lantai 3 dan sekarang arwahnya masih gentayangan menghuni toilet perempuan lantai dua. Kisah-kisah urban legend, entah sadar atau tidak, selalu ada di sekitar kita. Kisah itu tak diketahui kebenarannya jika tak menyaksikannya sendiri. Lama kelamaan kisah itu terkesan makin seram saja karena kegemaran orang-orang yang suka melebih-lebihkan cerita guna menambah intensitas kengerian. Well, benar atau tidak, pastinya kisah tersebut menarik untuk didengarkan. Namun, ada orang-orang yang tak puas hanya dengan sekadar mendengar gosip belaka. Itulah yang membawa Nikki, Fara, Randy, dan Neil akhirnya membulatkan tekad untuk menelusuri misteri di sekolah mereka.

Semua berawal dari buku yang ditemukan Fara di perpustakaan. Buku itu adalah buku dengan tulisan bergaya kuno yang berisi petunjuk untuk sampai ke lantai keempat. Ya, gosipnya, di sekolah mereka yang hanya terdiri tiga lantai itu, ada “lantai tambahan” (ya ampun, bahkan mengetik review ini saja bikin saya keringat dingin). Konon, dengan mengikuti petunjuk yang ada di buku itu, seseorang bisa sampai ke lantai empat. Celakanya, orang yang pernah mencobanya, tak pernah berhasil kembali lagi, alias menghilang. Nikki, salah satu sahabat Fara yang aktif mengikuti klub mading, berminat menjadikan cerita tersebut sebagai bahan liputannya. Mereka berempat lalu sepakat untuk mencoba ritual seperti yang tertulis di buku kuno itu.

Selain itu, di lantai empat itu kabarnya ada penunggu yang bisa mengabulkan permintaan apapun. Lalu mereka teringat dengan kisah Maria, hantu sekolah, yang dikabarkan menghilang karena mencoba menuju lantai keempat. Apakah sebenarnya yang ada di lantai keempat itu dan apa motivasi Maria sehingga berani-beraninya mencari tahu lantai empat? Benarkah ia dulu merupakan korban bully dan berharap dapat menemui penunggu tua di lantai empat untuk meminta para siswa agar tak mengganggunya lagi?

***

Rahasia Lantai Keempat

Hmph.

Izinkan saya tarik napas sebentar ya. Untunglah saya menulis review ini di siang hari. Meskipun begitu, tetap saja rasanya ada yang mengawasi saat saya mencoba menulis review ini.

Rahasia Lantai Keempat (seterusnya akan saya singkat menjadi RLK) merupakan novel misteri, horor, thriller, whatever you name it, yang bergenre remaja. Awalnya saya pikir novel ini bercerita tentang alasan kenapa di mall-mall dan di gedung-gedung tak ada lantai 4, 14, dst. Hahaha. Konyol memang. Ternyata setelah dibaca, buku ini adalah petualangan menegangkan keempat sahabat yaitu Neil, Randy, Nikki, dan Fara yang disemangati oleh jiwa muda untuk menuntaskan rasa penasaran mereka.

Percaya deh, baru baca dua halaman pertama saja saya sudah merinding disko loh. Seolah penulis ingin meyakinkan pembaca “Ini horor betulan, embrace yourself!”. Jujur, saya gak expect bahwa cerita horor remaja akan sebegini menegangkannya atau saya yang tutup mata terhadap perkembangan penulis horor remaja? Wow, salut!

Setelah baca lima halaman, saya mulai merasa paranoid. Akhirnya saya memutuskan untuk sementara menutup bukunya. Saya pikir akan lebih baik jika saya membacanya di tengah keramaian dibandingkan dengan suasana sepi di kamar seorang diri. Oh, tidak, tidak. Thanks.

Pasalnya, selain narasinya yang ditulis detail sehingga hawa mistisnya sampai ke pembaca, buku ini juga disertai ilustrasi yang… ya ampun, sumpah deh, saya nyaris saja melempar buku ini ketika membuka halaman selanjutnya!!! Hasilnya, setiap ingin bergerak ke halaman selanjutnya, saya ngintip-ngintip dulu, takut ada penampakan atau apa. Hahaha parno gila!

Saya juga merasakan teror itu terasa mencekam karena gambaran sekolah yang ditulis mirip sekali dengan gambaran sekolah saya waktu SMA dulu. Sebuah gedung tua tiga lantai, dengan koridor gelap dan perpustakaan tua yang terpisah dari gedung utama. Memiliki bagian gedung barat dan timur. Hiiyy!

Selain suasana mencekam, karena ini cerita remaja, adalah formula wajib untuk menambahkan bumbu-bumbu romance dan persahabatan khas anak SMA. Meskipun begitu, hal ini tidak menurunkan intensitas kengeriannya. Yah, pokoknya porsinya pas dan gak bikin saya jadi malas baca.

Tapi sayang sekali, ketika saya masih penasaran dengan hantu-hantunya (loh?) buku ini ternyata sudah akan habis. Huaaa rasanya gak rela pisah sama keempat sahabat ini. Soalnya saya suka karakter keempatnya. Juga meskipun mereka gak kelihatan cupu atau manja, tetap ada sifat khas anak remaja (yaitu saat Nikki menyalahkan Farad an kecemburuan Nikki terhadap Fara) yang digambarkan. Jadi rasanya saya benar-benar baca cerita remaja. Bukan baca cerita remaja yang berkelakuan kayak orang dewasa.

Satu lagi, saya agak kurang sreg sama sampulnya. Ya, paham sih ini kan buku remaja, tapi saya rasa penerbit seharusnya bisa bikin sampul depan buku yang “lebih”. Sebab sangat disayangkan jika cerita sebagus ini tak menarik hati calon pembeli karena mereka keburu gak suka dengan sampulnya.

Saya harap Rettania terus membuat cerita remaja yang seperti ini. Capek ah sama penulis teenlit yang isinya drama dan mewek-mewek karena hal gak penting. 4 of 5 stars!

***

Nah, yang namanya Blog Tour pasti gak hanya sekadar baca review buku dong. Yap, benar. Rettania dan Bukune akan bagi-bagi hadiah buat kalian pengunjung setia blog AtasNamaBuku. Caranya:

1. Follow Twitter @rettaniea

2. Follow Twitter @Bukune dan @selebvi. (optional)

2. Follow blog ini via email. Button ada di sidebar ya.

3. Kuis berlangsung selama blog tour berlangsung. (25 Juni dibuka, 1 Juli ditutup). Pengumuman pemenang selambat-lambatnya pada tanggal 6 Juli 2015 (bisa jadi lebih cepat).

4. Hanya dipilih satu pemenang yang akan diundi. Pemenang akan dihubungi via Twitter. Apabila tak ada respons selama 1×24 jam, saya akan memilih pemenang baru. Pemenang yang sudah pernah memenangkan hadiah yang sama di blog lain, tentunya tak akan dipilih lagi ya.

5. Promosikan blog tour ini. Sifatnya opsional, tapi saya akan berterima kasih sekali jika Anda bersedia melakukannya.

Kalau sudah, coba jawab tantangan saya di bawah ini ya. Jangan lupa cantumkan username Twitter kalian.

“Tuliskan urban legend di sekolah (boleh pengalaman pribadi atau sekadar dengar-dengar gosip) dalam satu paragraf pendek. Tambahkan bumbu-bumbu supaya ceritamu menimbulkan efek horor.”

Jawaban ditulis di kolom komentar ya. Tak ada bagus, tak ada jelek. Semua komentar yang masuk akan diikutkan dalam undian. Good luck!

Limited edition t-shirt + 1 eksemplar buku Rahasia Lantai Keempat bertandatangan bisa kamu menangkan!

Limited edition t-shirt + 1 eksemplar buku Rahasia Lantai Keempat bertandatangan bisa kamu menangkan!

Advertisements

A Pocket Full of Rye: Sebait Naskah Kematian

Published 1st January 2000 by Signet (first published 1953) 220 Pages Genre: Mystery, Thriller, Family Rating: 2 of 5

Seri Miss Marple pertama yang saya baca.

Menceritakan tentang Keluarga Fortescue yang  kaya raya. Cerita tentang keluarga kaya tentu tak sedap tanpa percikan drama keluarga seperti yang sering terlihat di televisi.

Rex Fortescue adalah seorang pengusaha kaya yang mati saat meminum teh racikannya sendiri, seperti sebagaimana kebiasaannya begitu tiba di kantor. Rex tak memiliki penyakit apapun dan tak ada berita ia seorang pasien rumah sakit manapun sehingga polisi sampai pada kesimpulan: Rex keracunan (dan/atau diracun orang). Mulanya, para juru ketik di kantornya menjadi sorotan, namun belakangan diketahui bahwa racun itu bukan berasal dari teh yang diminumnya melainkan sudah sejak ia sarapan di rumah. Kecurigaan Inspektur Neele, detektif yang menangani kasus Fostescue ini, berpindah ke rumah mewah yang berisi istri kedua Rex, anak sulung laki-laki Rex dan istrinya, anak perempuan Rex, dan seorang wanita tua, ipar Rex, yang tinggal terpisah di paviliun belakang rumah.

Awalnya, Inspektur Neele mencurigai Adele, istri kedua Rex yang usianya masih sangat muda. Neele berasumsi Adele pasti menikahi Rex karena mengincar uangnya. Tapi seperti kebanyakan cerita detektif lainnya, satu pembunuhan tentu tak cukup dan terlalu dini untuk pembaca mengetahui pembunuhnya, maka terjadilah kematian selanjutnya yaitu Adele yang juga karena racun. Inspektur Neele kebingungan karena dugaannya salah. Dia juga belum menemukan jawaban dari misteri kenapa ada rye di saku Rex padahal tak ada indikasi yang mengarah ke sana (dan kenapa harus rye?). Apakah itu pesan kematian yang menunjukkan identias pembunuhnya? Selagi mencari tahu, terjadilah pembunuhan ketiga yaitu seorang gadis muda pembantu rumah itu yang ditemukan gantung diri.

Berita kematian gadis muda itu sampai ke telinga  Miss Marple, karena ternyata gadis muda itu adalah mantan anak didik Miss Marple. Penasaran dengan apa yang terjadi, Miss Marple datang ke rumah itu dan setuju untuk membantu Inspektur Neele.

***

Saya tidak terlalu menikmati membacanya karena yang saya baca adalah buku terbitan Signet yang menggunakan Bahasa Inggris yang entah jadul entah sastra lama, pokoknya bikin saya bolak-balik buka tutup kamus. Selain itu ceritanya juga terkesan agak dipaksakan. Saya tak bisa cerita “dipaksakan” bagaimana yang dimaksud di sini karena nanti saya dianggap spoiler.

Lagi-lagi, seperti biasanya, saya gagal menebak pelakunya. Kunci pembunuhan ini adalah lagu Sing a Song of Sixpence yang dalam salah satu baitnya berbunyi “a pocket full of rye”. Cocok dengan kondisi Rex saat mati. Tapi tetap saja Inspektur Neele tak menyadari bagaimana itu bisa menjadi pesan kematian jika bukan atas penjelasan Miss Marple.

Endingnya agak menggantung. Dan pembunuhnya juga gak ngaku. Jadi seakan-akan Miss Marple menyimpan jawabannya untuk kepuasan diri saja. Tak sesuai ekspektasi saya. Konsep pembunuhan mengingatkan saya dengan novel Agatha Christie lain, yaitu And Then There Were None, yang sama-sama berdasarkan lagu.

Saya tak kapok baca Miss Marple. Hanya saja untuk yang satu ini saya tidak terlalu menikmati (atau apakah karena saya terus menerus baca cerita detektif ya sehingga otak saya merasa jenuh dan menolak untuk memahami?). Entahlah.

And The Mountains Echoed: Ada Cerita Dalam Cerita

Sebenarnya banyak faktor kenapa saya hanya memberi 2 bintang untuk buku ini.

Pertama, bisa jadi karena saya orangnya anti mainstream, jadi ketika yang lain menangis membaca buku ini, saya malah mengerutkan dahi. By the way, bukannya saya tidak menangis lho ya, hanya sekadar mata berkaca-kaca saja. Tak sampai sesenggukan atau bagaimana. Itupun hanya di bagian awal (saat si kakak dan adik berpisah) dan di akhir (saat mereka bertemu kembali). Selebihnya, saya merasa bosan.

Kedua, sebenarnya buku ini sudah saya baca sejak lama namun terhenti di tengah jalan karena saya tak merasakan feel-nya. Tapi, sebagai orang yang dinaungi zodiak Capricorn (sebetulnya gak nyambung sih), saya harus menyelesaikannya, suka atau tidak suka. Maka, saya mencoba membaca buku ini kembali dan rasanya berat sekali. Sebelumnya saya banyak membaca cerita misteri, horor, dan thriller sehingga mungkin cerita drama dalam buku ini tidak mengena ke saya.

Ketiga, saya pernah membaca cerita yang jauh lebih mengharukan dan tidak bertele-tele seperti ini, sehingga saat membaca buku ini rasanya kayak datar. Ya, apapun kemungkinannya, bisa dibilang buku ini tak terlalu saya sukai.

Ini adalah buku Khaled Hosseini pertama yang saya baca. Sempat penasaran karena banyak review yang mengatakan buku ini bikin banjir air mata. Karena saya membacanya saat bulan puasa, saya mencoba untuk membacanya malam hari. Saya pikir saya bakal mewek sesenggukan yang segimana hebohnya. Ternyata enggak tuh. Ok, jangan terlalu percaya review orang lain.

Ceritanya sebetulnya sedehana. Seorang anak perempuan bernama Pari yang harus dijual ke orang kaya demi menghidupi keluarganya. Untuk itu, Pari harus berpisah dengan kakaknya, Abdullah. Di bagian ini, tentu saya sedih. Penggambarannya begitu dalam dan merasuk. Saya seakan-akan berada di Afghanistan sana untuk menyaksikan kejadiannya secara langsung. Hal inilah yang menyeret saya untuk membaca lebih banyak lagi.

Makin ke belakang, kok saya tak melihat adanya cerita Pari dan Abdullah seperti yang saya harapkan ya? Saya malah disuguhi cerita-cerita dari POV tokoh-tokoh lain dalam buku ini. Memang sih, cerita mereka berhubungan, ah tapi apa peduli saya, saya hanya ingin penulis perbanyak cerita Abdullah dan Pari (egois, ya). Bagaimana mereka menjalani hidup remaja mereka tanpa saudara terkasih, bagaimana Abdullah bertahan setelah ditinggal Pari, yah hal-hal melankolis seperti itulah. Lagian menurut saya, cerita POV dari tokoh-tokoh lainnya tak seberapa penting kok. Hanya flashback mengenai orang tersebut. Seperti ada cerita dalam cerita. Atau memang begini gaya menulis Khaled Hosseini? Meskipun begitu, saya suka surat Nabi kepada Markos.

Setelah lelah baca kisah hidup para pemeran pendukung yang sebenarnya hanya untuk membuat tebal buku ini, tahu-tahu diceritakan Abdullah sudah berkeluarga, punya anak yang diberi nama Pari. Terus beralih ke POV lain. Yang bla bla bla, menjenuhkan. Lalu tiba-tiba kembali ke masa dewasa Pari. Yah singkatnya mereka lalu bertemu, tetapi pertemuannya ternyata tak cukup membahagiakan. Akhirnya, saya sedih lagi.

Di buku ini diceritakan kehidupan Afghanistan dengan segala kondisi perangnya. Mungkin inilah yang sebetulnya berusaha diceritakan penulis bagi pembaca. Persoalan Pari dan Abdullah sendiri tak terlalu diekspos. Penulis lebih banyak menceritakan kehidupan peran pendukungnya. Ah, AQ GMZZZ!!!

***

And The Mountains Echoed (Dan Gunung-gunung Pun Bergema) by
Khaled Hosseini
Penerbit Qanita
Terbit 2013
512 Halaman
Rating: 2 of 5

Proyek Maut


Judul Buku: Proyek Maut
Penulis: Eddie Sindunata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 11 Mei 2015
Tebal: 344 Halaman
Genre: Crime Thriller
Rating: 2 of 5

Buku ini menceritakan, ah, kalimat pembuka seperti itu tentunya sangat mainstream. Jadi saya memutuskan untuk mencari kalimat pembuka lain. Misalnya begini… Betul Indonesia gersang dengan bacaan-bacaan. bergenre thriller (oke, ini kayaknya kalimat yang cool). Namun nampaknya Proyek Maut (PM) belum cukup dapat menghapus kegersangan itu. Saya berpendapat demikian karena saya merasakan kelelahan dan kejengkelan yang mendalam saat membaca buku ini. Terlepas dari yang saya pahami, menulis sebuah buku memang tak mudah.

Hal utama yang disorot adalah adanya permainan kotor para konglomerat-konglomerat di negeri ini berkolaborasi dengan pejabat dan pihak kepolisian. Proyek Mega Subway yang merupakan proyek rahasia akhirnya mulai diketahui Hardi, seorang komisaris polisi, sejak terjadinya kasus pembunuhan seorang konglomerat. Selama menyelidiki kasus pembunuhan tersebut, kasus-kasus kotor lain mulai terbongkar. Sudah, itu saja sinopsisnya. Saya lebih tertarik membahas cara penulis bercerita ketimbang bahas jalan ceritanya (bahkan saya tidak terlalu peduli dengan endingnya).

Pertama, sejak awal membaca buku ini, saya gatal dengan penggunaan bahasa yang begitu kaku. Bahkan seorang tukang bakso dan tukang warteg pun dibikin dialog dengan bahasa yang kaku. Okelah, mungkin penulis bermaksud menghasilkan suatu karya yang baku sesuai kaidah EYD dan sebagainya tapi saya sebagai pembaca jadi merasa seperti robot. Tak nyaman dan natural rasanya. Kayak naik ojek mendaki Gunung Pangrango. Gajruk-gajruk gitu. Ya, saya gak pernah naik ojek ke gunung juga sih.

Kedua, karakterisasi tokoh-tokoh di dalamnya. Saya tak mau bahas soal teknis menciptakan karakter atau apa, hanya saja pandangan saya sebagai pembaca awam, tokoh-tokoh dalam buku ini tidak membekas dengan baik di ingatan saya. Sejatinya (ya, ini mengadopsi kata-kata yang suka diucapkan Feni Rose) saya tak peduli apakah nama tokoh itu begitu populer seperti Bianca, Reinald, Alexandra, atau Voldemort. Jadi sah-sah saja kalau penulis ingin menamai tokoh-tokohnya dengan nama yang “endonesa biyanget” seperti Hardi, Santi, Eko, dsb tapi please buatlah karakter yang kuat bagi setiap tokoh sehingga pembaca bisa dengan mudah memvisualisasikannya dalam imaji mereka. Sampai akhir cerita, saya tak tahu apakah Hardi ini gendut kayak pak polisi yang suka di lampu merah itu atau gagah kayak robocop. Saya juga tak tahu apakah Santi ini bentuk badannya kutilang atau kayak Kim Kardashian.

Ketiga, membaca dialog dalam buku ini seperti melihat pertandingan bulutangkis. Hanya ada tektok dan tanya jawab ibarat saya lagi isi kuesioner psikologi. “Apakah Anda merokok?” Tidak. “Apakah Anda punya pacar?” Kepo ih. “Apakah pacar Anda manusia?” Vampir! Yah, sebagai pembaca saya tentu mengharapkan percakapan yang mengalir dan terkesan alami. Jadi agak gak bersemangat melanjutkan membacanya karena penulisan dialog yang begitu kaku.

Keempat, saya kayaknya tidak satu frekuensi dengan penulis soal logika. Menurut saya, seorang atasan polisi agak aneh kalau harus ber-aku kamu dengan bawahannya. Lalu juga saat adegan polisi menyamar dan mendatangi sebuah warteg, padahal kan sudah dibilang “saya polisi” lah kok masih saja dipanggil “Mas” sama tukang warteg. Entah ya, mungkin hasil observasi penulis demikian adanya tapi kalau saya sih otomatis akan memanggil polisi manapun dengan sebutan “Pak”. Bukan Mas Polisi. Ya kecuali suami saya nanti seorang polisi. Etapi saya gak mau punya suami seorang polisi. Iya, ok, gak curhat lagi deh habis ini.

Kelima, cover bukunya relatif mirip dengan cover buku thriller punya penerbit sebelah. Yah, 5 aja deh. Karena Allah kan suka yang ganjil-ganjil dan balonku ada 5 tapi hatiku cuma ada 1. Monggo dibaca sendiri supaya bisa menilai juga. Juga 2 bintang untuk ide dan usahanya menulis buku bergenre thriller.

Semoga genre ini makin berkembang di Indonesia ya. Kalau pembaca lain setelah membaca buku ini mungkin akan berhadapan dengan pertanyaan “Kira-kira betulan sekotor ini atau enggak ya?”, saya justru sejak awal memilih untuk tak peduli. Konspirasi di dunia ini terlalu banyak dan rumit dan saya tak ingin sepanjang hidup saya habiskan buat bernegative thinking dan menerka-nerka sekalipun memang. ada beberapa bukti.