Istriku Seribu: Karena Poligami Dua Istri Terlalu Mainstream

image

Saya tertarik membeli buku ini karena memang niat mau mencari buku-bukunya Cak Nun. Seorang teman semangat sekali merekomendasikan agar saya baca buku-buku beliau.  Kebetulan buku ini tipis dan seukuran dengan kamus poket. Sebagai permulaan sekaligus berkenalan dengan tulisan Cak Nun, oke, aku comot.

Eh tapi selain itu, tulisan di sampul belakangnya juga bikin hati saya dag dig dug.

image

Jadi makin penasaran pengin baca, kan?

Ternyata isinya bagus lho. Saya sih suka. Kalimat-kalimatnya bernada satir yang lumayan nonjok. Cerdas dan berisi. Pembaca senantiasa diingatkan bahwa hidup ini hanya sementara dan kepada Tuhanlah kita akan kembali. Maka, tak usahlah terlalu ngoyo mengurusi hal-hal duniawi tok-tok, yang itu-itu saja.

Jangan salah sangka. Buku ini bukanlah buku tentang poligami, walaupun akan ada bahasannya juga sih. Namun, istri seribu yang dimaksud dalam buku ini adalah perumpamaan yang digunakan Cak Nun untuk menyebut hal-hal duniawi yang membuat kita konsumtif. Kita seperti seorang suami yang harus memenuhi kebutuhan para istri. Istri-istri kita itu antara lain mobil, rumah, barang-barang mewah, furniture mahal, dan sebagainya. Kita terlalu sibuk membahagiakan istri-istri kita sampai kita lupa dengan Sang Khalik.

Sebuah bacaan yang nampol dan cucok buat pembaca siraman rohani. *halah* wkwkwk

Dark Places: Kau Tak Bisa Lihat Apa yang Seharusnya Kaulihat

26048647Sudah 6 bulan nggak nulis review! Oh my, God. Malas benar saya. Bukannya saya nggak baca buku atau apa. Memang sih selain banyak baca komik, tahun lalu itu saya punya kesibukan lain yang bikin saya malas baca dan malas review. My bad. Sampai akhirnya ada e-mail dari Divisi Keanggotaan BBI yang mengingatkan bahwa blog saya harus segera di-update. Wow, thanks BBI!

Oke, so, sekarang saya pengin menulis review dengan gaya review baru. Tak ingin menuliskan dengan gamblang tentang identitas buku, tetapi akan menyelipkannya di sepanjang review, sehingga saya harap review saya betulan dibaca dari awal sampai habis! Hahaha!

Buku Dark Places karya Gillian Flynn ini adalah buku pertama yang saya selesaikan di tahun 2016. Bacanya sih sudah sejak 2015, tapi ya karena kesibukan lain itu yang bikin nggak kelar-kelar bacanya. Habis buku ini tebal banget sih, sekitar 472 halaman. Mana hurufnya kecil-kecil pula. Wkwk.

Tokoh utamanya bernama Libby Day dan yah khas Gillian banget, menggunakan multipoint of view. Kita bisa baca beberapa sudut pandang selain dari Libby, ada Ben Day kakak Libby, dan Patty Day mama Libby. Alurnya juga maju mundur, masih nggak berubah dengan gaya menulis Gone Girl kan? Hal ini salah satu yang bikin saya nggak segitunya buat kasih banyak bintang.

Ok, jadi Libby ini adalah satu-satunya survivor saat keluarganya dibantai ketika berumur 7 tahun. Bisa bayangin kan, anak kecil usia segitu selamat dari pembantaian sekeluarga yang ternyata pelakunya adalah kakaknya sendiri, Ben Day. What?

Yap, masuk akal sih soalnya si Ben ini diceritakan adalah seorang penganut sekte sesat pemuja setan. Nah, pembantaian ini diduga merupakan aksi Ben sebagai bentuk kurban untuk setan itu.

Banyak yang prihatin dengan peristiwa ini sehingga sampai berumur 32 tahun Libby hidup “cukup” atas donasi orang-orang. Sampai akhirnya uang donasi itu ternyata sudah mau habis dan bikin Libby kelimpungan mau cari duit ke mana untuk membiayain hidupnya. Lalu suatu hari seorang anggota Klub Bunuh menawarkan kerjasama pada Libby untuk membongkar kasus pembantaian keluarganya dengan iming-iming uang, sebab Klub Bunuh ini yakin Ben Day bukan pembunuh sebenarnya. Wah, tempting banget. Di satu sisi Libby pengin menyelamatkan kakaknya (seklaigus dapat uangnya dong, pastinya) tapi di sisi lain dia agak malas berurusan dengan masa lalunya. Lha kalau ternyata Ben bukan pembunuh, berarti kesaksian dia waktu berumut 7 tahun itu palsu dong? Terus gimana? Libby jadi bingung.

Singkatnya, Libby dibantu temannya untuk mengungkap misteri siapa pelaku sebenarnya pembantaian itu. Dan kutu kupret banget endingnya! Penasaran kenapa saya bilang kutu kupret? Nah, baca deh.

Adegan-adegan dalam buku ini bisa dibilang sadis sih. Saya aja sampai mengernyit menandakan ngeri bacanya sehingga beberapa deskripsi sadis saya skip baca. Hahaha. Tapi percaya deh, kalau ada filmnya, bukan jenis film yang bakal saya tonton. Cukup dibaca aja. Hehehe…

Tapi untuk keseluruhan saya hanya kasih 3 bintang. Kenapa? Ceritanya kepanjangan, menjebak banget deh. Kesel saya jadinya hahaha. Gaya menulisnya juga masih sama dengan Gone Girl, bosan aja rasanya. Tapi untuk ide cerita dan endingnya: kutu kupret!!!

Misteri Patung Garam: Menilik Kembali Kisah Idis

Misteri Patung Garam karya Ruwi Meita. Penerbit Gagas Media. Tebal 284 Halaman. Terbit: Februari 2015. Genre: Psycho-thriller. Rating: 3 of 5.

Seorang pianis ditemukan mati dengan bibir terjahit, bola matanya dicongkel, dan organ-organ tubuhnya dikeluarkan secara paksa. Mayat tersebut didandani seakan-akan sedang bermain piano dan sekujur badannya dilumuri adonan garam.

Kiri Lamiri diminta menyelesaikan kasus tersebut, setelah keberhasilannya mengusut kasus pembunuhan segitiga biru. Tak mudah bagi Kiri karena pembunuh melakukan aksinya dengan sangat rapi. Selain itu dia juga sedang punya masalah sendiri yaitu dituntut nikah sama pacarnya. Ha! Kasian..

Selagi mencari info-info, pembunuh tersebut rupanya sudah berhasil mendapatkan korban lagi. Korban-korban terus berjatuhan dan pelaku tahu Kiri mengejarnya. Sebagai gantinya, pelaku mengincar seorang fotografer yang sebentar lagi akan menggelar pameran tunggalnya. Fotografer itu pacar Kiri.

***
Bagus, tapi kurang greget.

Ide ceritanya saya suka sebab seingat saya belum ada penulis yang mengangkat tema garam sebagai motif pembunuhan (kalaupun ada, saya belum baca). Terinpirasi dari kisah Idis, istri Lot (atau Luth) yang berubah jadi patung garam karena mengabaikan perintah Tuhan. Selain itu juga kentara sekali riset yang dilakukan penulis benar-benar mendalam. Saya bahkan baru tahu kalau kata “salary” berasal dari kata “salt” sebab pada jaman dulu orang digaji menggunakan garam. Saya suka!

Hanya saja saya agak terganggu dengan penggunaan kalimat baku dalam dialog. Saya rasa ini masalah utama saya saat membaca sebuah buku. Seperti mengunyah nasi yang ada kerikilnya. Tak ada yang salah dengan penggunaan kalimat baku, memang, namun jika digunakan untuk sebuah dialog yang diucapkan oleh seorang anak stasiun yang hidup sebagai pencopet, rasanya agak mengganjal.

Lalu, saya juga kurang suka dengan pacar si tokoh utama. Kok kayaknya manja sekali hingga saya pengin mites dia saking gemasnya. Juga apa maksudnya ungkapan “kampret rebus” yang bisa dibilang ciri khas Inspektur Saut? Bikin saya kehabisan kata-kata buat komentar. Oh ya di bagian Kenes dan Ireng, jujur, saya agak skimming karena “cerita sampingan” ini gak terlalu menarik perhatian saya.
Pembunuhnya cukup mudah ditebak. Awalnya saya sempat bertanya-tanya mungkinkah ini pembunuhnya? Kalau ya, kok seakan-akan saat diinterogasi polisi, dia malah mengeluarkan penyataan yang menciptakan kecurigaan bagi dirinya? Ah, bukan.. bukan.. Pasti bukan ini pembunuhnya. Lalu, saya baca lagi dan lagi berharap bertemu tokoh baru yang bisa saya curigai. Ternyata tak ada. Ya sudah, fix lah tebakan saya. Meskipun begitu, penulis tetap menyuguhkan twist di akhir cerita (untuk yang satu ini, tak mudah ditebak).

Untuk ukuran thriller dengan kisah pencongkelan bola mata dan mumifikasi, novel ini termasuk kurang dark. Tulisannya sebatas deskripsi kondisi setelah ditemukan mati dan belum bisa bikin saya bergidik ngeri. Saya berharap bertemu bab yang menceritakan proses pembunuhan dari segi pandang pelaku alias pria lavendel. Misalnya, adegan saat ia menyayat-nyayat tubuh korbannya, kenikmatan sekaligus kesedihan yang dirasakan, dan sebagainya.

Pokoknya novel ini kurang tebal. Cerita flashback kehidupan pria lavendel di masa kecil yang berdampak pada dirinya sekarang mestinya diceritakan juga. Pasti bikin tambah menarik. Sebab agak aneh kan, di ending tahu-tahu Inspektur Kiri bisa menebak pelakunya tapi pembaca gak dibimbing berpikiran begitu. Ya, oke, ada scene saat Kiri ke RS Jiwa dan ke kampung pengasuh kecilnya, tapi tetap saja itu kurang mendukung menurut saya.

Overall, buku ini layak dibaca. Dengan riset dan eksekusi yang lebih mantap lagi, saya rasa penulis bisa menghasilkan karya baru di masa mendatang yang jauh lebih ciamik dari ini.

Winner Announcement

image

Halo!

Pagi ini saya sudah memegang 15 nama peserta giveaway Blog Tour Rahasia Lantai Keempat yang sudah siap diundi. Dari 15 peserta ini sudah saya cek apakah mengikuti rules atau tidak. Sayang sekali ada 2 blogger yaitu @ariansyahABO dan @kimzujonghee yang tidak mematuhi rules yaitu tidak mengikuti akun @rettaniea sehingga kedua nama tersebut harus didiskualifikasi.

Maka, pengundian saya lanjutkan dengan 13 peserta saja ya. Pemenang akan dimention oleh saya dan wajib merespons dalam 1×24 jam. Jika tidak, maka dengan berat hati saya akan memilih pemenang baru.

Berikut blogger-blogger yang berhak mengikuti undian:
1. Bintang
2. Lois
3. Jiah
4. Megha
5. Murniaya
6. Dhani
7. Jmnim
8. Miyung
9. Irma
10. Agnes
11. Thia
12. Ananda
13. Tasya

And the winner goes to….. (drum roll)

image

Yeaiy! Selamat buat Dhani dengan akun Twitter @DhaniRamadhani. Tunggu mention dari saya ya. Dhani berhak mendapatkan satu eksemplar buku Rahasia Lantai Keempat bertanda tangan dan Kaos Limited Edition persembahan Rettaniea dan Bukune.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih buat teman-teman blogger yang sudah begitu antusias mengikuti blog tour ini. Buat yang belum menang, eits tenang, masih ada destinasi tour terakhir (Puncak Blog Tour) di sini.

Sampai jumpa!😀

[Blog Tour] Rahasia Lantai Keempat by Rettania: Jangan Menengok ke Belakang!!!

Waktu saya SD, ada cerita hantu mister gepeng yang katanya mati karena kegencet pintu kamar mandi. Lalu saat SMP ada gosip hantu di toilet siswi yang kerap meminjam sisir. Pas SMA, ada hantu perempuan yang katanya bunuh diri dengan cara terjun dari lantai 3 dan sekarang arwahnya masih gentayangan menghuni toilet perempuan lantai dua. Kisah-kisah urban legend, entah sadar atau tidak, selalu ada di sekitar kita. Kisah itu tak diketahui kebenarannya jika tak menyaksikannya sendiri. Lama kelamaan kisah itu terkesan makin seram saja karena kegemaran orang-orang yang suka melebih-lebihkan cerita guna menambah intensitas kengerian. Well, benar atau tidak, pastinya kisah tersebut menarik untuk didengarkan. Namun, ada orang-orang yang tak puas hanya dengan sekadar mendengar gosip belaka. Itulah yang membawa Nikki, Fara, Randy, dan Neil akhirnya membulatkan tekad untuk menelusuri misteri di sekolah mereka.

Semua berawal dari buku yang ditemukan Fara di perpustakaan. Buku itu adalah buku dengan tulisan bergaya kuno yang berisi petunjuk untuk sampai ke lantai keempat. Ya, gosipnya, di sekolah mereka yang hanya terdiri tiga lantai itu, ada “lantai tambahan” (ya ampun, bahkan mengetik review ini saja bikin saya keringat dingin). Konon, dengan mengikuti petunjuk yang ada di buku itu, seseorang bisa sampai ke lantai empat. Celakanya, orang yang pernah mencobanya, tak pernah berhasil kembali lagi, alias menghilang. Nikki, salah satu sahabat Fara yang aktif mengikuti klub mading, berminat menjadikan cerita tersebut sebagai bahan liputannya. Mereka berempat lalu sepakat untuk mencoba ritual seperti yang tertulis di buku kuno itu.

Selain itu, di lantai empat itu kabarnya ada penunggu yang bisa mengabulkan permintaan apapun. Lalu mereka teringat dengan kisah Maria, hantu sekolah, yang dikabarkan menghilang karena mencoba menuju lantai keempat. Apakah sebenarnya yang ada di lantai keempat itu dan apa motivasi Maria sehingga berani-beraninya mencari tahu lantai empat? Benarkah ia dulu merupakan korban bully dan berharap dapat menemui penunggu tua di lantai empat untuk meminta para siswa agar tak mengganggunya lagi?

***

Rahasia Lantai Keempat

Hmph.

Izinkan saya tarik napas sebentar ya. Untunglah saya menulis review ini di siang hari. Meskipun begitu, tetap saja rasanya ada yang mengawasi saat saya mencoba menulis review ini.

Rahasia Lantai Keempat (seterusnya akan saya singkat menjadi RLK) merupakan novel misteri, horor, thriller, whatever you name it, yang bergenre remaja. Awalnya saya pikir novel ini bercerita tentang alasan kenapa di mall-mall dan di gedung-gedung tak ada lantai 4, 14, dst. Hahaha. Konyol memang. Ternyata setelah dibaca, buku ini adalah petualangan menegangkan keempat sahabat yaitu Neil, Randy, Nikki, dan Fara yang disemangati oleh jiwa muda untuk menuntaskan rasa penasaran mereka.

Percaya deh, baru baca dua halaman pertama saja saya sudah merinding disko loh. Seolah penulis ingin meyakinkan pembaca “Ini horor betulan, embrace yourself!”. Jujur, saya gak expect bahwa cerita horor remaja akan sebegini menegangkannya atau saya yang tutup mata terhadap perkembangan penulis horor remaja? Wow, salut!

Setelah baca lima halaman, saya mulai merasa paranoid. Akhirnya saya memutuskan untuk sementara menutup bukunya. Saya pikir akan lebih baik jika saya membacanya di tengah keramaian dibandingkan dengan suasana sepi di kamar seorang diri. Oh, tidak, tidak. Thanks.

Pasalnya, selain narasinya yang ditulis detail sehingga hawa mistisnya sampai ke pembaca, buku ini juga disertai ilustrasi yang… ya ampun, sumpah deh, saya nyaris saja melempar buku ini ketika membuka halaman selanjutnya!!! Hasilnya, setiap ingin bergerak ke halaman selanjutnya, saya ngintip-ngintip dulu, takut ada penampakan atau apa. Hahaha parno gila!

Saya juga merasakan teror itu terasa mencekam karena gambaran sekolah yang ditulis mirip sekali dengan gambaran sekolah saya waktu SMA dulu. Sebuah gedung tua tiga lantai, dengan koridor gelap dan perpustakaan tua yang terpisah dari gedung utama. Memiliki bagian gedung barat dan timur. Hiiyy!

Selain suasana mencekam, karena ini cerita remaja, adalah formula wajib untuk menambahkan bumbu-bumbu romance dan persahabatan khas anak SMA. Meskipun begitu, hal ini tidak menurunkan intensitas kengeriannya. Yah, pokoknya porsinya pas dan gak bikin saya jadi malas baca.

Tapi sayang sekali, ketika saya masih penasaran dengan hantu-hantunya (loh?) buku ini ternyata sudah akan habis. Huaaa rasanya gak rela pisah sama keempat sahabat ini. Soalnya saya suka karakter keempatnya. Juga meskipun mereka gak kelihatan cupu atau manja, tetap ada sifat khas anak remaja (yaitu saat Nikki menyalahkan Farad an kecemburuan Nikki terhadap Fara) yang digambarkan. Jadi rasanya saya benar-benar baca cerita remaja. Bukan baca cerita remaja yang berkelakuan kayak orang dewasa.

Satu lagi, saya agak kurang sreg sama sampulnya. Ya, paham sih ini kan buku remaja, tapi saya rasa penerbit seharusnya bisa bikin sampul depan buku yang “lebih”. Sebab sangat disayangkan jika cerita sebagus ini tak menarik hati calon pembeli karena mereka keburu gak suka dengan sampulnya.

Saya harap Rettania terus membuat cerita remaja yang seperti ini. Capek ah sama penulis teenlit yang isinya drama dan mewek-mewek karena hal gak penting. 4 of 5 stars!

***

Nah, yang namanya Blog Tour pasti gak hanya sekadar baca review buku dong. Yap, benar. Rettania dan Bukune akan bagi-bagi hadiah buat kalian pengunjung setia blog AtasNamaBuku. Caranya:

1. Follow Twitter @rettaniea

2. Follow Twitter @Bukune dan @selebvi. (optional)

2. Follow blog ini via email. Button ada di sidebar ya.

3. Kuis berlangsung selama blog tour berlangsung. (25 Juni dibuka, 1 Juli ditutup). Pengumuman pemenang selambat-lambatnya pada tanggal 6 Juli 2015 (bisa jadi lebih cepat).

4. Hanya dipilih satu pemenang yang akan diundi. Pemenang akan dihubungi via Twitter. Apabila tak ada respons selama 1×24 jam, saya akan memilih pemenang baru. Pemenang yang sudah pernah memenangkan hadiah yang sama di blog lain, tentunya tak akan dipilih lagi ya.

5. Promosikan blog tour ini. Sifatnya opsional, tapi saya akan berterima kasih sekali jika Anda bersedia melakukannya.

Kalau sudah, coba jawab tantangan saya di bawah ini ya. Jangan lupa cantumkan username Twitter kalian.

“Tuliskan urban legend di sekolah (boleh pengalaman pribadi atau sekadar dengar-dengar gosip) dalam satu paragraf pendek. Tambahkan bumbu-bumbu supaya ceritamu menimbulkan efek horor.”

Jawaban ditulis di kolom komentar ya. Tak ada bagus, tak ada jelek. Semua komentar yang masuk akan diikutkan dalam undian. Good luck!

Limited edition t-shirt + 1 eksemplar buku Rahasia Lantai Keempat bertandatangan bisa kamu menangkan!

Limited edition t-shirt + 1 eksemplar buku Rahasia Lantai Keempat bertandatangan bisa kamu menangkan!

A Pocket Full of Rye: Sebait Naskah Kematian

Published 1st January 2000 by Signet (first published 1953) 220 Pages Genre: Mystery, Thriller, Family Rating: 2 of 5

Seri Miss Marple pertama yang saya baca.

Menceritakan tentang Keluarga Fortescue yang  kaya raya. Cerita tentang keluarga kaya tentu tak sedap tanpa percikan drama keluarga seperti yang sering terlihat di televisi.

Rex Fortescue adalah seorang pengusaha kaya yang mati saat meminum teh racikannya sendiri, seperti sebagaimana kebiasaannya begitu tiba di kantor. Rex tak memiliki penyakit apapun dan tak ada berita ia seorang pasien rumah sakit manapun sehingga polisi sampai pada kesimpulan: Rex keracunan (dan/atau diracun orang). Mulanya, para juru ketik di kantornya menjadi sorotan, namun belakangan diketahui bahwa racun itu bukan berasal dari teh yang diminumnya melainkan sudah sejak ia sarapan di rumah. Kecurigaan Inspektur Neele, detektif yang menangani kasus Fostescue ini, berpindah ke rumah mewah yang berisi istri kedua Rex, anak sulung laki-laki Rex dan istrinya, anak perempuan Rex, dan seorang wanita tua, ipar Rex, yang tinggal terpisah di paviliun belakang rumah.

Awalnya, Inspektur Neele mencurigai Adele, istri kedua Rex yang usianya masih sangat muda. Neele berasumsi Adele pasti menikahi Rex karena mengincar uangnya. Tapi seperti kebanyakan cerita detektif lainnya, satu pembunuhan tentu tak cukup dan terlalu dini untuk pembaca mengetahui pembunuhnya, maka terjadilah kematian selanjutnya yaitu Adele yang juga karena racun. Inspektur Neele kebingungan karena dugaannya salah. Dia juga belum menemukan jawaban dari misteri kenapa ada rye di saku Rex padahal tak ada indikasi yang mengarah ke sana (dan kenapa harus rye?). Apakah itu pesan kematian yang menunjukkan identias pembunuhnya? Selagi mencari tahu, terjadilah pembunuhan ketiga yaitu seorang gadis muda pembantu rumah itu yang ditemukan gantung diri.

Berita kematian gadis muda itu sampai ke telinga  Miss Marple, karena ternyata gadis muda itu adalah mantan anak didik Miss Marple. Penasaran dengan apa yang terjadi, Miss Marple datang ke rumah itu dan setuju untuk membantu Inspektur Neele.

***

Saya tidak terlalu menikmati membacanya karena yang saya baca adalah buku terbitan Signet yang menggunakan Bahasa Inggris yang entah jadul entah sastra lama, pokoknya bikin saya bolak-balik buka tutup kamus. Selain itu ceritanya juga terkesan agak dipaksakan. Saya tak bisa cerita “dipaksakan” bagaimana yang dimaksud di sini karena nanti saya dianggap spoiler.

Lagi-lagi, seperti biasanya, saya gagal menebak pelakunya. Kunci pembunuhan ini adalah lagu Sing a Song of Sixpence yang dalam salah satu baitnya berbunyi “a pocket full of rye”. Cocok dengan kondisi Rex saat mati. Tapi tetap saja Inspektur Neele tak menyadari bagaimana itu bisa menjadi pesan kematian jika bukan atas penjelasan Miss Marple.

Endingnya agak menggantung. Dan pembunuhnya juga gak ngaku. Jadi seakan-akan Miss Marple menyimpan jawabannya untuk kepuasan diri saja. Tak sesuai ekspektasi saya. Konsep pembunuhan mengingatkan saya dengan novel Agatha Christie lain, yaitu And Then There Were None, yang sama-sama berdasarkan lagu.

Saya tak kapok baca Miss Marple. Hanya saja untuk yang satu ini saya tidak terlalu menikmati (atau apakah karena saya terus menerus baca cerita detektif ya sehingga otak saya merasa jenuh dan menolak untuk memahami?). Entahlah.

And The Mountains Echoed: Ada Cerita Dalam Cerita

Sebenarnya banyak faktor kenapa saya hanya memberi 2 bintang untuk buku ini.

Pertama, bisa jadi karena saya orangnya anti mainstream, jadi ketika yang lain menangis membaca buku ini, saya malah mengerutkan dahi. By the way, bukannya saya tidak menangis lho ya, hanya sekadar mata berkaca-kaca saja. Tak sampai sesenggukan atau bagaimana. Itupun hanya di bagian awal (saat si kakak dan adik berpisah) dan di akhir (saat mereka bertemu kembali). Selebihnya, saya merasa bosan.

Kedua, sebenarnya buku ini sudah saya baca sejak lama namun terhenti di tengah jalan karena saya tak merasakan feel-nya. Tapi, sebagai orang yang dinaungi zodiak Capricorn (sebetulnya gak nyambung sih), saya harus menyelesaikannya, suka atau tidak suka. Maka, saya mencoba membaca buku ini kembali dan rasanya berat sekali. Sebelumnya saya banyak membaca cerita misteri, horor, dan thriller sehingga mungkin cerita drama dalam buku ini tidak mengena ke saya.

Ketiga, saya pernah membaca cerita yang jauh lebih mengharukan dan tidak bertele-tele seperti ini, sehingga saat membaca buku ini rasanya kayak datar. Ya, apapun kemungkinannya, bisa dibilang buku ini tak terlalu saya sukai.

Ini adalah buku Khaled Hosseini pertama yang saya baca. Sempat penasaran karena banyak review yang mengatakan buku ini bikin banjir air mata. Karena saya membacanya saat bulan puasa, saya mencoba untuk membacanya malam hari. Saya pikir saya bakal mewek sesenggukan yang segimana hebohnya. Ternyata enggak tuh. Ok, jangan terlalu percaya review orang lain.

Ceritanya sebetulnya sedehana. Seorang anak perempuan bernama Pari yang harus dijual ke orang kaya demi menghidupi keluarganya. Untuk itu, Pari harus berpisah dengan kakaknya, Abdullah. Di bagian ini, tentu saya sedih. Penggambarannya begitu dalam dan merasuk. Saya seakan-akan berada di Afghanistan sana untuk menyaksikan kejadiannya secara langsung. Hal inilah yang menyeret saya untuk membaca lebih banyak lagi.

Makin ke belakang, kok saya tak melihat adanya cerita Pari dan Abdullah seperti yang saya harapkan ya? Saya malah disuguhi cerita-cerita dari POV tokoh-tokoh lain dalam buku ini. Memang sih, cerita mereka berhubungan, ah tapi apa peduli saya, saya hanya ingin penulis perbanyak cerita Abdullah dan Pari (egois, ya). Bagaimana mereka menjalani hidup remaja mereka tanpa saudara terkasih, bagaimana Abdullah bertahan setelah ditinggal Pari, yah hal-hal melankolis seperti itulah. Lagian menurut saya, cerita POV dari tokoh-tokoh lainnya tak seberapa penting kok. Hanya flashback mengenai orang tersebut. Seperti ada cerita dalam cerita. Atau memang begini gaya menulis Khaled Hosseini? Meskipun begitu, saya suka surat Nabi kepada Markos.

Setelah lelah baca kisah hidup para pemeran pendukung yang sebenarnya hanya untuk membuat tebal buku ini, tahu-tahu diceritakan Abdullah sudah berkeluarga, punya anak yang diberi nama Pari. Terus beralih ke POV lain. Yang bla bla bla, menjenuhkan. Lalu tiba-tiba kembali ke masa dewasa Pari. Yah singkatnya mereka lalu bertemu, tetapi pertemuannya ternyata tak cukup membahagiakan. Akhirnya, saya sedih lagi.

Di buku ini diceritakan kehidupan Afghanistan dengan segala kondisi perangnya. Mungkin inilah yang sebetulnya berusaha diceritakan penulis bagi pembaca. Persoalan Pari dan Abdullah sendiri tak terlalu diekspos. Penulis lebih banyak menceritakan kehidupan peran pendukungnya. Ah, AQ GMZZZ!!!

***

And The Mountains Echoed (Dan Gunung-gunung Pun Bergema) by
Khaled Hosseini
Penerbit Qanita
Terbit 2013
512 Halaman
Rating: 2 of 5